TEORI PEMROSESAN INFORMASI BERBANTUAN MEDIA
Teori pemrosesan informasi adalah teori kognitif
tentang belajar yang menjelaskan pemrosesan, penyimpanan, dan pemanggilan
kembali pengetahuan dari otak (Slavin, 2000). Teori ini menjelaskan bagaimana
seseorang memperoleh sejumlah informasi dan dapat diingat dalam waktu yang
cukup lama. Oleh karena itu perlu menerapkan suatu strategi belajar tertentu
yang dapat memudahkan semua informasi diproses di dalam otak melalui beberapa
indera.
Teori
pembelajaran pemrosesan informasi adalah bagian dari teori belajar sibernetik.
Secara sederhana pengertian belajar menurut teori belajar sibernetik adalah
pengolahan informasi. Dalam teori ini, seperti psikologi kognitif, bagi
sibernetik mengkaji proses belajar penting dari hasil belajar, namun yang
lebih penting dari kajian proses belajar itu sendiri adalah sistem
informasi, sistem informasi inilah yang pada akhirnya akan menentukan proses
belajar.
Pemrosesan
informasi itu sendiri secara sederhana dapat diartikan suatu proses yang
terjadi pada peserta didik untuk mengolah informasi, memonitornya, dan menyusun
strategi berkenaan dengan informasi tersebut dengan inti pendekatannya lebih
kepada proses memori dan cara berpikir. Dalam teori pemrosesan informasi,
terdapat beberapa model mengajar yang akan mendorong pengembangan pengetahuan
dalam diri siswa dalam hal mengendalikan stimulus yaitu mengumpulkan dan
mengorganisasikan data, menyadari dan memecahkan masalah, mengembangkan konsep
sehingga mampu menggunakan lambang verbal dan non verbal dalam penyampaiannya.
Atkinson
dan Shiffin dalam Levitin (2002:296) menyatakan bahwa memori manusia terdiri
dari tiga jenis, yaitu sensori memori (sensory register) yang menerima
informasi melalui indra penerima seperti mata, telinga, hidung, mulut, dan atau
tangan, setelah beberapa detik informasi tersebut akan hilang atau diteruskan
pada ingatan jangka pendek (short term memory atau working memory).
Informasi tersebut setelah 5 – 20 detik akan hilang atau tersimpan ke dalam
ingatan jangka panjang (long term memory).
Teori
pemrosesan informasi berpijak pada tiga asumsi sebagaimana dikemukakan Lusiana
dalam Budiningsih (2005:82) bahwa: (a) antara stimulus dan respon terdapat
suatu seri pemrosesan informasi di mana pada masing-masing tahapan dibutuhkan
sejumlah waktu tertentu, (b) stimulus yang diproses melalui tahapan tahapan
tadi akan mengalami perubahan bentuk atau isinya, dan (c) salah satu dari tahap
memiliki keterbatasan kapasitas.
Proses
pengolahan informasi dalam ingatan manusia diolah dalam tahapan yang berurutan,
dan tiap tahapan terjadi struktur tertentu dalam sistem memori. Pencatat indra
khususnya visual dan pendengaran, menerima isyarat-isyarat yang luas sekali
macamnya dari lingkungan. Beberapa informasi disimpan sebentar (0,5 sampai 2,0
detik) saja di dalam pencatat indera. Informasi yang telah dipilih untuk diolah
lebih lanjut masuk kedalam memori jangka pendek atau memori kerja.
Sedangkan
informasi yang tidak diakomodir untuk diolah lebih lanjut selanjutnya akan
hilang dari sistem. Dalam memori kerja atau jangka pendek informasi tersebut
selanjutnya disandikan menjadi wujud yang bermakna dan dikirim ke memori jangka
panjang untuk disimpan secara tetap. Proses penyandian informasi dan pengiriman
ke memori jangka panjang merupakan fase inti dari belajar.
Letivin
(2002:322) menyatakan terdapat tiga jenis informasi di dalam memori yang mudah
untuk diingat kembali adalah informasi yang disampaikan secara terus menerus,
informasi tentang hal-hal yang terbaru, dan informasi tentang kejadian-kejadian
yang tidak biasa dialami. Dengan demikian, pengulangan adalah yang terpenting
dalam sistem memori manusia. Dengan pengulangan akan memudahkan informasi yang
berada di ingatan jangka pendek masuk ke ingatan jangka panjang dan lebih mudah
untuk memanggil kembali informasi yang berada di ingatan jangka panjang muncul
di ingatan jangka pendek.
Implikasi
dari teori pemrosesan informasi yang memandang belajar adalah pengkodean
informasi ke dalam memori manusia seperti layaknya sebuah cara kerja komputer
dan karena memori memiliki keterbatasan kapasitas, pembelajaran harus dapat
untuk menarik perhatian siswa dan menyediakan aplikasi berulang dan praktik
secara individual agar informasi yang diberikan mudah dicerna dan dapat
bertahan lama dalam memori siswa, dan aplikasi komputer memiliki semuanya
dengan kualitas yang sangat baik
Media pengantar mengacu pada sistem yang dipakai
untuk menyajikan informasi, misalnya media berbasiskan media cetakan atau media
berbasiskan komputer. Desain pesan mengacu pada bentuk yang digunakan untuk
menyajikan informasi, misalnya pemakaian animasi atau teks audio.
Kemampuan sensorik mengacu pada jalur pemrosesan informasi yang dipakai untuk
memproses informasi yang diperoleh, seperti proses penerimaan informasi visual
atau auditorial. Sebagai contoh, suatu paparan tentang bagaimana sistem sesuatu
alat bekerja dapat dipresentasikan melalui teks tertulis dalam buku atau
melalui teks di layar komputer (dua media yang berbeda), dalam bentuk rangkaian
kata-kata atau kombinasi kata-kata dan gambar (dua desain pesan yang berbeda),
atau dalam bentuk kata-kata tertulis atau lisan (dua sensorik yang berbeda).
Beberapa teori yang melandasi perancangan
desain pesan multimedia instruksional ialah teori pengkodean ganda,
teori muatan kognitif, dan teori pemrosesan ganda. Menurut teori pengkodean
ganda manusia memiliki sistem memori kerja yang terpisah untuk informasi verbal
dan informasi visual, memori kerja terdiri atas memori kerja visual dan
memori kerja auditori. Teori muatan kognitif menyatakan bahwa setiap memori
kerja memiliki kapasitas yang terbatas. Sedangkan teori pemrosesan ganda
menyatakan bahwa penyampaian informasi lewat multimedia instruksional baru
bermakna jika informasi yang diterima diseleksi pada setiap penyimpanan, diorganisasikan
ke dalam representasi yang berhubungan, serta dikoneksikan dalam tiap
penyimpanan Temuan-temuan penelitian (Pranata, 2004) telah menguji kebenaran
teori pengkodean ganda (dual-coding theory): terdapat dua buah saluran
pemrosesan informasi yang independent yaitu pemrosesan informasi visual (atau
memori kerja visual) dan pemrosesan informasi verbal (atau memori kerja
verbal); kedua memori kerja tersebut memiliki kapasitas yang terbatas untuk
memroses informasi yang masuk. Hal terpenting yang dinyatakan oleh teori muatan
kognitif adalah sebuah gagasan bahwa kemampuan terbatas memori kerja, visual
maupun auditori, seharusnya menjadi pokok pikiran ketika seseorang hendak
mendesain sesuatu pesan multimedia.
SUMBER:
Arif
Mustofa, M. Thobroni, 2012. “Belajar & Pembelajaran: Pengembangan
Wacana dan Praktik Pembelajaran dalam Pembangunan Nasional, Jakarta:
Ar Ruzz Media
Budiningsih,
C. Asri. 2005. Belajar dan
Pembelajaran, cet.1 Jakarta: Rineka Cipta
Leslie J. Briggs, Robert M. Gagne, Principles
of Instructional DesignI, 1978. New York Chicago San Francisco Dallas
Pranata,
Moeljadi. (2004). Efek Redudansi:
Desain Pesan Multimedia dan Teori Pemrosesan Informasi. Jurnal Desain Komunikasi Visual Nirmana Vol. 6, No. 2 Juli 2004.
Slavin, R.E. 2000. Educational Psychology, Theory and Practice. United State of America: Allyn & Bacon
Sudjana,
Nana. 1989. Dasar-dasar Proses
Belajar, Bandung: Sinar Baru Algesindo
Syah,
Muhibbin. 2003. Psikologi
Belajar, Jakarta : Raja
Grapindo Persada
saya ingin bertanya sedikit mengenai paparan materi yang anda jelaskan di atas. tolong jelaskan maksud dari " informasi yang tidak diakomodir untuk diolah lebih lanjut selanjutnya akan hilang dari sistem"? terimakasih
BalasHapusTerimakasih Miranda Atas pertanyaannya. maksud dari informasi yang tidak diakomodir yaitu informasi yang belum di simpan dan ditransfer ke dalam memori jangkan panjang.Proses pengolahan informasi dalam ingatan manusia diolah dalam tahapan yang berurutan, dan tiap tahapan terjadi struktur tertentu dalam sistem memori. Pencatat indra khususnya visual dan pendengaran, menerima isyarat-isyarat yang luas sekali macamnya dari lingkungan. Beberapa informasi disimpan sebentar (0,5 sampai 2,0 detik) saja di dalam pencatat indera. Informasi yang telah dipilih untuk diolah lebih lanjut masuk kedalam memori jangka pendek atau memori kerja.Dalam memori kerja atau jangka pendek informasi tersebut selanjutnya disandikan menjadi wujud yang bermakna dan dikirim ke memori jangka panjang untuk disimpan secara tetap. Proses penyandian informasi dan pengiriman ke memori jangka panjang merupakan fase inti dari belajar.
Hapussaya ingin bertanya karna saya kurang paham tentang bagian ini,,Beberapa teori yang melandasi perancangan desain pesan multimedia instruksional ialah teori pengkodean ganda,nah bagaimana menurut saudari jika kita sebagai guru menerapkan teori tersebut saat proses pembelajaran,,tolong jelaskan?
BalasHapusTerimakaish Tesa atas Pertanyaannya. Jika kita sebagai guru menerapkan teori pengkodean dalam proses pembelajaran sangatlah baik. karena dalam penggunaan teori pemerosesan ganda memiliki sistem memori kerja yang terpisah untuk informasi verbal dan informasi visual, memori kerja terdiri atas memori kerja visual dan memori kerja auditori. jadi informasi yang ditankap oleh siswa bukan hanya satu informasi yang diperoleh tetapi lebih dari satu informasi yang didapat siswa dalam proses pembelajaran.
Hapussaya lukita sari ingin menambahkan sedikit tentang
BalasHapusKejadian-kejadian belajar itu akan diuraikan dibawah ini, yaitu:
1. Fase motivasi : siswa yang belajar harus diberi motivasi untuk memanggil informasi yang telah dipelajari sebelumnya.
2. Fase pengenalan : siswa harus memberikan perhatian pada bagian-bagian yang esensial dari suatu kejadian instruksional, jika belajar akan terjadi.
3. Fase perolehan : apabila siswa memperhatikan informasi yang relevan, maka ia telah siap untuk menerima pelajaran.
4. Fase retensi : informasi baru yang diperoleh harus dipindahkan dari memori jangka pendek ke memori jangka panjang. Ini dapat terjadi melalui penggulangan kembali
5. Fase pemanggilan : pemanggilan dapat ditolong dengan memperhatikan kaitan-kaitan antara konsep khususnya antara pengetahuan baru dengan pengetahuan sebelumnya.
6. Fase generalisasi : biasanya informasi itu kurang nilainya, jika tidak dapat diterapkan diluar konteks di mana informasi itu dipelajari.
7. Fase penampilan : tingkah laku yang dapat diamati. Belajar terjadi apabila stimulus mempengaruhi individu sedemikan rupa sehingga performancenya berubah dari situasi sebelum belajar kepada situasi sesudah belajar.
8. Fase umpan balik : para siswa harus memperoleh umpan balik tentang penampilan mereka yang menunjukkan apakah mereka telah atau belum mengerti tentang apa yang diajarkan.
Terimakasih Lukita sari:)
Hapussaya ingin bertanya bagaimana Implikasi dari teori pemrosesan informasi yang memandang belajar adalah pengkodean informasi ke dalam memori manusia. Sebutkan contohnya. Terimakasih
BalasHapusTerimakasih Vini Gentari atas pertanyaannya. contoh belajar merupakan pengkodeaan informasi ke dalam memori mansuia yaitu: dengan belajar akan mendorong informasi yang ada di dalam memori manusia untuk bertambah dan dengan adanya hal itu informasi yang ada di memori manusia akan mendorong memori jnagka pendek dan jangka panjang manusia dengan belajar.
HapusManusia melakukan pembelajaran aktif dengan memilih informasi masuk yang relevan, mengorganisasikan informasi-informasi itu kedalam refresentasi mental yang koheren, dan memadukan refresentasi mental itu dengan pengetahuan lain.
BalasHapusOleh karena karya sentral multimedia learning berlangsung dalam memori kerja atau working memory. Memori kerja digunakan untuk penyimpanan sementara dan memanipulasi pengetahuan dalam kesadaran pikiran aktif.
terimakasih nova arma atas wawasan informasinya :)
Hapuskenapa setiap siswa memiliki tingkat kemampuan memproses informasi yang berbeda-beda?
BalasHapusTerimakasih Novani atas pertanyannya. Karena, masing-masing siswa memiliki kemampuan kognitif yang berbeda-beda. Jadi, kemamouan siswa dengan yg lainnya penyerapan informasi yg di teroma juga berbeda-beda.
Hapuskenapa setiap siswa memiliki tingkat kemampuan memproses informasi yang berbeda-beda?
BalasHapusTerimakasih Novani atas pertanyannya. Karena, masing-masing siswa memiliki kemampuan kognitif yang berbeda-beda. Jadi, kemamouan siswa dengan yg lainnya penyerapan informasi yg di teroma juga berbeda-beda.
HapusPada teori pemrosesan informasi adalah teori kognitif tentang belajar yang menjelaskan pemrosesan, penyimpanan, dan pemanggilan kembali pengetahuan dari otak. Teori ini menjelaskan bagaimana seseorang memperoleh sejumlah informasi dan dapat diingat dalam waktu yang cukup lama. Oleh karena itu perlu menerapkan suatu strategi belajar tertentu yang dapat memudahkan semua informasi diproses di dalam otak melalui beberapa indera.
BalasHapusMenurut teori pemrosesan informasi, pengetahuan yang diproses dan dimaknai dalam memori kerja disimpan dalam memori jangka panjang dalam bentuk skema-skema teratur secara hirarkis. Tahap pemahaman dalam pemrosesan informasi dalam memori kerja berfokus pada bagaimana pengetahuan barudimodifikasi. Pemahaman berkenaan dan dipengaruhi oleh interpretasi terhadap stimulus. Faktor stimulus adalah karakteristik dari elemen-elemen desain pesan seperti ukuran, ilustrasi, teks, animasi, narasi, warna, musik, serta video.
Model belajar pemrosesan informasi ini sering pula disebut model kognitif information processing, karena dalam proses belajar ini tersedia tiga taraf struktural sistem informasi, yaitu:
1) Sensory atau intake register: informasi masuk ke sistem melalui sensory register, tetapi hanya disimpan untuk periode waktu terbatas. Agar tetap dalam sistem, informasi masuk ke working memory yang digabungkan dengan informasi di long-term memory.
2) Working memory: pengerjaan atau operasi informasi berlangsung di working memory, dan di sini berlangsung berpikir yang sadar. Kelemahan working memory sangat terbatas kapasitas isinya dan memperhatikan sejumlah kecil informasi secara serempak.
3) Long-term memory, yang secara potensial tidak terbatas kapasitas isinya sehingga mampu menampung seluruh informasi yang sudah dimiliki peserta didik. Kelemahannya adalah betapa sulit mengakses informasi yang tersimpan di dalamnya.
Terimakasih Mia, atas tambahan wawasan informasinya:)
Hapus