PENGEMBAGAN
E-LEARNING
DALAM
PEMBELAJARAN KIMIA
Pembelajaran
yang hanya dilakukan di kelas memiliki beberapa kelemahan, di antaranya sumber
belajar terbatas, pembelajaran kurang efektif, dan tidak mampu mengakomodasi gaya
dan kecepatan belajar siswa. Gaya belajar adalah suatu cara atau strategi
seseorang dalam mengelola informasi. Kelemahan tersebut dapat diatasi dengan
memanfaatkan perkembangan teknologi yang semakin maju dengan mengembangkan media pembelajaran yang dapat
mengakomodasi perbedaan gaya dan kecepatan belajar siswa. terlebih lagi dalam
pembelajaran kimia sangat diperlukan media agar materi kimia yang cenderung
susah dipahami oleh siswa dapat terbantu dengan adanya media yang
mendukung. Oleh karena itu diperlukan sebuah media yang mampu memberikan
nuansa baru dalam pembelajaran, memberikan beragam sumber belajar yang dapat
diakses setiap saat oleh siswa, sehingga mampu mengakomodasi gaya dan kecepatan
belajar siswa.
Salah
satu alternatif yang diajukan adalah dengan mengembangkan media pembelajaran
berbasis learning management system (LMS) dengan memanfaatkan kemajuan
teknologi di bidang internet. Learning Management System (LMS) atau yang juga
dikenal sebagai Virtual Learning
Environtment (VLE) adalah suatu pengelolaan pembelajaran yang mempunyai fungsi
untuk memberikan sebuah materi, mendukung kolaborasi, menilai kinerja siswa,
merekam data peserta didik, dan menghasilkan laporan yang berguna untuk
memaksimalkan efektivitas dari sebuah pembelajaran (Yasar dan Adiguzel, 2010).
LMS biasanya dikembangkan dalam sistem berbasis web. Penggunaan teknologi web
ini dalam suatu program pendidikan memberikan dukungan kepada guru atau
pengajar untuk mencapai tujuan pedagogis siswa, mengatur isi kursus, dan
mendukung sarana belajar siswa pada akhirnya
Menurut
Depdiknas (2008), bahan ajar dapat dikembangkan dalam berbagai bentuk yang
disesuaikan dengan kebutuhan dan karakteristik materi yang akan disajikan.
Seiring dengan perkembangan ilmu pengetahuan dan teknologi, penggunaan alat
bantu media pembelajaran menjadi semakin luas dan interaktif seperti penggunaan
komputer atau internet. Penggunaan internet dalam proses pembelajaran dikenal
dengan istilah e-learning. E-learning merupakan suatu jenis
belajar mengajar yang memungkinkan tersampaikannya bahan ajar ke siswa dengan
menggunakan media internet, intranet atau media jaringan komputer lain
(Hartley, 2001).
E-learning
membuat pembelajaran dapat lebih
terbuka dan fleksibel. Pembelajaran dapat terjadi kapan saja, dimana saja, dan
dengan siapa saja. Salah satu media yang dikembangkan untuk menunjang
pembelajaran secara online adalah program LMS (Learning Management
System). Menurut Yasar dan Adiguzel (2010), Learning Management System (LMS)
adalah suatu pengelolaan pembelajaran yang mempunyai fungsi untuk memberikan
sebuah materi belajar, mendukung kolaborasi, menilai kinerja peserta didik,
merekam data peserta didik, dan menghasilkan laporan yang berguna untuk
memaksimalkan efektifitas dari sebuah pembelajaran. Selain materi ajar,
skenario pembelajaran perlu disiapkan dengan matang untuk mengundang keterlibatan
peserta didik secara aktif dan konstruktif dalam proses belajar mereka
(Hasbullah, 2009).
E-learning pada pembelajaran di
sekolah-sekolah khususnya pembelajaran sains telah diterapkan sejak beberapa
tahun yang lalu. Selain untuk tujuan pembelajaran, penerapan e-learning juga
sebagai sarana untuk mengenalkan teknologi informasi kepada peserta didik.
Namun sampai sekarang pemanfaatannya masih kurang optimal. Bahkan sebagian
orang beranggapan bahwa penerapan e-learning hanya sekedar
mengikuti trend saja tanpa menghiraukan apakah tujuan
pembelajaran dapat tercapai atau tidak. Oleh karena itu, penelitian atau kajian
pustaka tentang implementasi e-learning khususnya pada
pembelajaran sains perlu terus dilakukan.
Pengertian e-learning pada umumnya
terfokus pada cakupan media atau teknologinya. E-learning menurut
Gilbert & Jones dalam Surjono (2007) adalah suatu pengiriman materi
pembelajaran melalui suatu media elektronik, seperti internet,
intranet/ekstranet, satelite broadcast, audio/video, TV interaktif,
CD-ROM dan computer based training (CBT). E-learning juga
diartikan sebagai seluruh pembelajaran yang menggunakan rangkaian elektronik
(LAN, WAN atau Internet) untuk membantu interaksi dan penyampaian materi selama
proses pembelajaran (Kumar, 2006). Urdan dan Weggen menyatakan e-learning sebagai
suatu pengiriman materi melalui semua media elektronik, termasuk internet,
intranet, siaran radio satelit, alat perekam audio/video, TV interaktif, dan
CD-ROM (Anderson, 2005).
Pengertian e-learning berbeda
dengan pembelajaran secara online (online learning) dan pembelajaran
jarak jauh (distance learning). Online learning merupakan
bagian dari e-learning, hal ini seperti yang dinyatakan oleh Australian
National Training Authority bahwa e-learning merupakan
suatu konsep yang lebih luas dibandingkan online learning, yaitu
meliputi suatu rangkaian aplikasi dan proses-proses yang menggunakan semua
media elektronik untuk membuat pelatihan dan pendidikan vokasional menjadi
lebih fleksibel.
Online
learning merupakan
suatu pembelajaran yang menggunakan internet, intranet dan ekstranet, atau
pembelajaran yang menggunakan jaringan komputer yang terhubung secara langsung
dan luas cakupannya (global). Sedangkan distance learning,
cakupannya lebih luas dibandingkan e-learning, yaitu tidak hanya
melalui media elektronik tetapi bisa juga menggunakan media
non-elektronik. Distance learning lebih menekankan pada
ketidakhadiran pendidik setiap waktu. Berdasarkan uraian yang telah
dikemukakan secara umum e-learning dapat diartikan sebagai
pembelajaran yang memanfaatkan atau menerapkan teknologi informasi dan
komunikasi. E-learning adalah kegiatan belajar yang menggunakan internet yang
dapat dikombinasikan dengan kegiatan tatap muka yang ada di lembaga pendidikan.
Penerapan e-learning banyak
variasinya, karena perkembangan teknologi informasi dan komunikasi yang cepat.
Surjono (2007), menekankan penerapan e-learning pada
pembelajaran secara online dan dibagi menjadi dua yaitu sederhana dan terpadu.
Penerapan e-learning yang sederhana hanya berupa kumpulan bahan
pembelajaran yang dimasukkan ke dalam web server dan ditambah
dengan forum komunikasi melalui e-mail dan atau mailing
list (milist). Penerapan terpadu yaitu berisi berbagai bahan
pembelajaran yang dilengkapi dengan multimedia dan dipadukan dengan sistem
informasi akademik, evaluasi, komunikasi, diskusi, dan berbagai sarana
pendidikan lain, sehingga menjadi portal e-learning. Pembagian
tersebut di atas berdasarkan pada pengamatan dari berbagai sistem pembelajaran
berbasis web yang ada di internet. Nedelko (2008), menyatakan
ada tiga jenis format penerapan e-learning, yaitu:
1. Web
Supported e-learning, yaitu pembelajaran tetap dilakukan secara tatap muka
dan didukung dengan penggunaan website yang berisi rangkuman
tujuan pembelajaran, materi pembelajaran, tugas, dan tes singkat
2. Blended
or mixed mode e-learning, yaitu sebagaian proses pembelajaran
dilakukan secara tatap muka dan sebagian lagi dilakukan secara online
3. Fully
online e-learning format, yaitu seluruh proses pembelajaran dilakukan
secara online termasuk tatap muka antara pendidik dan peserta didik juga
dilakukan secara online yaitu dengan menggunakan teleconference.
Penerapan e-learning lebih
banyak dimaknai sebagai pembelajaran menggunakan teknologi jaringan (net)
atau secara online. Hal ini berkaitan dengan perkembangan TIK yang mengarah
pada teknologi online. TIK saat ini, lebih difokuskan untuk pengembangan networking (jaringan)
yang memungkinkan untuk mengirim, memperbaharui, dan berbagi informasi secara
cepat. Keberhasilan penerapan dari e-learning bergantung pada
beberapa faktor antara lain teknologi, materi pembelajaran dan karakteristik
dari peserta didik. Teknologi merupakan faktor pertama yang mempunyai peran
penting di dalam penerapan e-learning, karena jika teknologi
tidak mendukung maka sangat sulit untuk menerapkan e-learning,
minimal sekolah mempunyai komputer. Materi pembelajaran juga harus sesuai
dengan tujuan pembelajaran, dijabarkan secara jelas atau diberikan link ataupun
petunjuk sumber pembelajaran yang lain. Karaktersitik peserta didik juga sangat
dibutuhkan karena nilai utama di dalam e-learning adalah
kemandirian.
E-learning membutuhkan model yang harus
didisain dalam bentuk pembelajaran inovatif. Pengembang, mempunyai
kesempatan dalam merencanakan pengalaman sebelumnya untuk penerapan
program e-learning. Untuk keperluan pengembangan e-learning,
pengembang konten pembelajaran diharapkan melakukan keseluruhan dari kecakapan
mengajar dalam proses pembelajaran e-learning. Pengembang
diharapkan dapat mengganti kekurangan dari subtansi atau waktu yang mungkin
terjadi dalam pembelajaran konvensional. Walaupun demikian, pengalaman belajar
yang terstruktur dengan baik belum cukup mengganti kekurangan kecakapan komunikasi
dalam proses pembelajaran e-learning. Performansi peserta didik
melalui e-learning adalah memperlihatkan kemampuan e-learning dalam
pengintegrasian proses pembelajaran. Komunikasi elektronik dikombinasikan
dengan proses pengembangan yang dibutuhkan untuk menempatkan suatu pembelajaran
dalam fasilitas format e-learning yang pengintegrasiannya ke
dalam penstrukturan konten.
Konten e-learning adalah
objek yang harus ada agar pembelajaran dapat berjalan, sedangkan aktor e-learning adalah
individu-individu yang melaksanakan pembelajaran e-learning.
Konten e-learning dapat berupa text-based content, multimedia-based
content ataupun kombinasi keduanya (text-based content dan multimedia-based
content).
Aktor
dalam pelaksanakan e-learning dapat dikatakan sama dengan
aktor pada pembelajaran konvensional, dalam pembelajaran diperlukan adanya
pengajar atau tutor yang membimbing, siswa yang menerima bahan ajar dan
pengajaran serta administrator yang mengelola administrasi dan
proses belajar mengajar.
Konten dan
aktor memiliki hubungan yang sangat erat, karena konten e-learning dibuat,
disimpan, dirawat dan dipergunakan oleh aktor e-learning itu
sendiri. Terdapat daur hidup (lifecycle) dalam konten e-learning dan
aktor adalah pusat dari daur hidup tersebut. Aktor berperan dalam membua (create),
menyimpan (archive), merawat (maintain) dan mempergunakan (use)
konten e-learning.
Setiawan
(2014) melaporkankan bahwa Technology Acceptance Model (TAM)
telah mengalami ekstensi dengan memperhatikakan faktor eksternal, yaitu keyakinan
diri (self efficacy) dan tekanan sosial (sosial influence) yang
menjelaskan lebih lanjut dan penyebab dari kemudahan penggunaan (Perceived
Ease Of Use) dan tentang kemanfaatan (Perceived Usefulness) yang dimiliki
pengguna teknologi. Salah satu faktor yang mempengaruhi sikap dan perilaku
penerimaan teknologi adalah pengaruh sosial (social influence) atau
lebih spesifik disebut dengan psychological attachment.
Penelitian
dilakukan dengan cara mencari data sekunder yaitu studi literatur yang terdiri
atas jurnal-jurnal karya ilmiah dan penelitian, buku, dan artikel online di
internet. Faktor-faktor dalam TAM yang menjadi perhatian adalah sebagai
berikut.
1. Portal Design (PD)
adalah antarmuka yang dapat membantu para pemakai dalam menggunakan sistem
secara mudah dengan mengurangi usaha dalam mengidentifikasi objek tertentu pada
layar atau penyediaan navigasi yang jelas antara layer yang
satu dengan yang lainnya.
2. E-resources Organization (ErO)
adalah tatacara sistem komputer sehingga dapat secara efektif terintegrasi ke
dalam pekerjaan praktis dari suatu organisasi tertentu, dalam hal ini ialah
pembelajaran.
3. Individual Differences (ID)
adalah faktor pribadi pengguna yang memiliki pengetahuan dasar mengoperasikan
komputer baik dari segi teknologi Sistem Operasi maupun aplikasi-aplikasinya,
lamanya penggunaan berbagai macam aplikasi sistem e-learning sejenis,
dan pengetahuan atas bahan ajar akan memberikan kepercayaan diri dan kemudahan
adaptasi sistem e-learning.
4. Social Influence (SI)
adalah satu faktor yang mempengaruhi sikap dan perilaku penerimaan melalui
ketatan, identifikasi dan internalisasi.
5. Perceived Ease of Use (PEoU)
adalah tingkat kepercayaan bahwa sistem e-learning akan mudah
untuk dipakai dan terbebas dari kesulitan.
6. Perceived Usefulness (PU)
adalah tingkat kepercayaan bahwa penggunaan sistem e-learning akan
meningkatkan pencapaian pembelajaran.
7. Attitude Toward Using (ATU)
adalah sikap pengguna (user) ke arah menggunakan sistem e-learning.
8. Behavioral Intention to
Use (ITU) adalah minat pengguna (user) ke arah
berlanjutnya penggunaan e-learning yang dianggap memberikan
manfaat pada proses pembelajaran.
9. Actual System Usage (ASU)
adalah pengguna (user) benar-benar menggunakan e-learning secara
nyata karena merasakan manfaatnya.
Hasil penelitian Setiawan (2014) tentang implementasi e-learning menggunakan Technology
Acceptance Model (TAM) menunjukkan bahwa faktor-faktor yang signifikan
mempengaruhi penerimaan user (peserta didik atau guru) sebagai
berikut.
1. Pengguna (peserta didik atau
guru) yang sudah memahami kemudahan menggunakan sistem e-learning tersebut
dan manfaat menggunakannya, maka akan mempunyai niat dan minat untuk menggunakan
sistem e-learning. Dari minat penggunaan tersebut maka para
pengguna akan senantiasa secara nyata menggunakan sistem e-learning sebagai
sumber pembelajaran.
2. Keberadaan pemahaman akan
manfaat penggunaan sangat dipengaruhi oleh faktor di luar pengguna yakni
organisasi bahan ajar elektronik yang dimiliki oleh sistem e-learning tersebut.
Lain halnya untuk pemahaman akan adanya kemudahan menggunakan sistem e-learning yang
sangat dipengaruhi oleh faktor luar bagi sistem e-learning tersebut
yakni kondisi dari perbedaan individu pengguna.
3. Bentuk model penerimaan
sebuah teknologi informasi baru, yakni sistem e-learning yang
diterapkan pada sampel pengguna yaitu ErO (relevansi e-resource dengan
kebutuhan pembelajaran dan aksesibilitas e-resource dalam
penggunaan) dan ID (visibilitas penggunaan, perkembangan diri teknologi
komputer, pengalaman atas penggunaan komputer, dan pengetahuan akan bahan ajar)
sebagai faktor laten luar atau faktor eksternal. PEoU (kemudahan untuk dipelajari/dipahami,
kemudahan untuk digunakan, dan frekuensi penggunaan dalam pembelajaran), PU
(kemudahan untuk meningkatkan keterampilan pembelajaran, mempertinggi
efektifitas pembelajaran, menjawab kebutuhan pembelajaran, meningkatkan
hasil pencapaian pembelajaran, meningkatkan efisiensi pembelajaran, dan
memungkinkan adanya pengembangan cara pembelajaran), ITU (penambahan software/plugin pendukung,
motivasi untuk tetap menggunakan dalam pembelajaran, dan memotivasi pengguna
lain) dan ASU (lama penggunaan dalam pembelajaran dan kepuasan penggunaan dalam
pembelajaran) sebagai faktor dalam atau faktor internal.
DAFTAR
PUSTAKA
Anderson,
B. (2005). “Strategic e-learning
implementation.” Educational
Technology & Society,
8 (4), 1-8. 1. ISSN 1436-4522
Depdiknas.
2008. Panduan Pengembangan Bahan Ajar.
Jakarta: Depdiknas.
Hartley, Darin E. 2001. Selling E-Learning. American
Society for Training and Development.
Rahmaniyah, Anna, dkk. 2013. Pengembangan
Bahan Ajar Berbasis Learning.Malang:Universitas Negeri Malang
Setiawan,
W, dkk. (2014). Analisis Penerapan
Sistem E-Learning FPMIPA UPI
Menggunakan Technology
Acceptance Model (TAM). Jurnal Pengajaran MIPA, Volume
19, Nomor 1, April 2014, hlm. 128-140.
Surjono,
H.D. (2007). Pengantar E-learning dan
Implementasinya di UNY. Makalah
disampaikan pada Pelatihan
Pembelajaran online UNY. Juli. Yogyakarta.
jika kita mengembangkan e learning terhadap suatu kelas, lalu apakah ada dampak negatif dari penggunaan e learning terhadap kelas tersebut, apakah ada dampak negatif nya?
BalasHapusTerimakasih atas pertanyaannya Almonawaroh. Dampak Negatif dari penggunaan e-learning tentu sjaa ada. karean setiap media pengembangan memiliki dampak negatif dan postif. dampak negatif yang ditimbulkan dari penegmabngan e-learning yaitu :
Hapus-Kurangnya interaksi antara guru dan siswa atau bahkan antar siswa itu sendiri.
-Kurangnya interaksi ini bisa memperlambat terbentuknya values dalam proses belajar dan mengajar.
-Kecenderungan mengabaikan aspek akademik atau aspek sosial dan sebaliknya mendorong tumbuhnya aspek bisnis/komersial.
-Proses belajar dan mengajarnya cenderung ke arah pelatihan daripada pendidikan.
-Berubahnya peran guru dari yang semula menguasai teknik pembelajaran konvensional, kini juga dituntut mengetahui teknik pembelajaran yang menggunakan ICT.
-Siswa yang tidak mempunyai motivasi belajar yang tinggi cenderun gagal.
-Tidak semua tempat tersedia fasilitas internet.
-Kurangnya tenaga yang mengetahui dan memiliki ketrampilan internet.
baik saya tambahkan sedikit
BalasHapusMenurut Koswara (2006) kemampuan baru yang diperlukan dosen untuk e-learning, antara lain perlu:
Ë Mengerti tentang e-learning,
Ë Mengidentifikasi karakteristik mahasiswa,
Ë Mendesain dan mengembangkan materi kuliah yang interaktif sesuai dengan perkembangan teknologi baru,
Ë Mengadaptasi strategi mengajar untuk menyampaikan materi secara elektronik,
Ë Mengorganisir materi dalam format yang mudah untuk dipelajari,
Ë Melakukan training dan praktek secara elektronik,
Ë Terlibat dalam perencanaan, pengembangan, dan pengambilan keputusan,
Ë Mengevaluasi keberhasilan pembelajaran, attitude dan persepsi para mahasiswanya.
Terimakaish Chrisyanto Namora:)
Hapussaya ingin mencoba menjawab pertanyaan dari saudari mona, yaitu :
BalasHapusDAMPAK E-LEARNING
Para pelajar merasakan sensasi belajar yang benar-benar berbeda dibandingkan kelas konvensional. Akses mereka terhadap informasi juga meningkat dengan drastis. Selain itu, para pelajar juga dapat memilih sendiri cara belajar yang dirasa paling cocok dengan kepribadian mereka ketika mengikuti kelas e-learning. Para pendidik merasakan dampak dari penggunaan e-learning terhadap metode pengajaran yang digunakan. Mereka perlu melakukan adaptasi dalam cara pengajaran yang disampaikan yang tentunya berbeda dengan metode konvensional. Selain itu juga diperlukan keahlian dalam menyediakan materi pembelajaran yang menarik untuk digunakan melalui sistem e-learning dan menggunakan fitur-fitur yang disediakan pada sistem e-learning dengan optimal dan efisien. Institusi pendidikan juga merasakan dampak dari penggunaan e-learning, khususnya dalam hal biaya penyelenggaraan pendidikan. Institusi juga bertanggung jawab untuk mengadakan pelatihan kepada para tenaga pengajarnya dan menyediakan teknologi atau media yang menjadi landasan dari sistem e-learning yang digunakan.Segi pembiayaan adalah salah satu perhatian utama bagi pihak yang. Adanya masalah biaya ini menyebabkan beberapa institusi pendidikan yang memiliki keterbatasan finansial memilih untuk bekerja sama dengan institusi pendidikan lain atau perusahaan penyedia layanan pengembangan sistem e-learning.
Terimakasih ismi hasanah atas jawabannya untuk pertanyaan saudari almonawarah saya setuju dengan pendapat anda. penggunaan pengemabnagan e-learning juga masih sulit untuk diterapkan di sekolah-sekolah karena salah satunya penyebabnya masih minimnya fasilitas dan kurang memadainya lingkungan untuk menerapkan pengembangan e-learning.
Hapussedikit menjawab dari pertanyaan almonawaroh. dampak negatif dari e-learning:
BalasHapus1. Siswa/i tentunya lebih tertarik untuk mendapat ilmu dari komputer daripada membaca buku.
2. terdapat manipulasi atau kecurangan yang dilakukan siswa
3. kurangnya pendidikan etika dan nilai moral dan terlalu bebas mengakses internet.
Terimakasih atas jawabannya Novani Kurniaty:)
Hapussaya ingin bertanya apakah e-learning disini dapat di gunakan dii daerah pedesaan?
BalasHapusterimakasih miranda atas pertanyannya. e-learning masih belum bisa digunakan di pedesaan. karemna jaringan koneksi internet di pedesaan masih kurang maksimal jaringannya. jadi, masih sulit digunakan proses pembelajaran menggunakan e-learning.
Hapussaya akan mencoba menjawab , e-learning bisa digunakan di desa dengan satu ketentuan didesa tersebut telah memiliki koneksi internet dan juga ketersediaan sarana serta prasarana untuk penggunaan e-learning itu sendiri selain itu , siswa atau pun guru yang ada didaerah tersebut telah mampu ataupun bisa menggunakan teknologi berbasis komputer , jika masih tidak terpenuhi bebebrapa syarat diatas maka pembealjaran denga metode e-learning didarah tersebut tidak dapat terjadi terimakasih
Hapusterimakasih sri wahyuningsih atas jawabannya.
Hapussaya ingin menjawab pertanyaan saudari miranda, menurut saya e-learning dapat di terapkan di daerah perdesaan asalkan di desa itu akses maupun fasilitas seperti jalan, listrik, internet dan lain-lain sudah memadai. karena dengan itu aplikasi e-learning ini bisa di terapkan.
BalasHapusterimakasih atas jawabannya frandi mardiansyah:)
HapusKelebihan Dan Kekurangan Sistem Pengajaran E-Learning
BalasHapusJika dikaitkan antara kebutuhan pembangunan perpustakaan digital dengan tujuan penyelenggaraan e-learning, maka harus diperhaikan beberapa kelebihan dan kekurangan dari e-leraning. Diantara beberapa kelebihan e-learning, yaitu:
1. Lebih mudah diserap, artinya menggunakan fasilitas multimedia berupa gambar, teks, animasi, suara, dan video.
2. Jauh lebih efektif dalam biaya, artinya tidak perlu instruktur, tidak perlu minimum audiensi, bisa dimana saja, bisa kapan saja, murah untuk diperbanyak.
3. Jauh lebih ringkas, artinya tidak banyak formalitas kelas, langsung pada pokok bahasan, mata pelajaran sesuai kebutuhan.
4. Tersedia 24 jam/hari – 7 hari/minggu, artinya penguaasaan materi tergantung pada semangat dan daya serap siswa, bisa dimonitor, bisa diuji dengan e-test.
terimakasih Nova arma atas wawasan informasinya :)
HapusPengertian e-learning pada umumnya terfokus pada cakupan media atau teknologinya. E-learning menurut Gilbert & Jones dalam Surjono (2007) adalah suatu pengiriman materi pembelajaran melalui suatu media elektronik, seperti internet, intranet/ekstranet, satelite broadcast, audio/video, TV interaktif, CD-ROM dan computer based training (CBT). E-learning juga diartikan sebagai seluruh pembelajaran yang menggunakan rangkaian elektronik (LAN, WAN atau Internet) untuk membantu interaksi dan penyampaian materi selama proses pembelajaran. Urdan dan Weggen menyatakan e-learning sebagai suatu pengiriman materi melalui semua media elektronik, termasuk internet, intranet, siaran radio satelit, alat perekam audio/video, TV interaktif, dan CD-ROM (Anderson, 2005).
BalasHapusE-learning pada pembelajaran di sekolah-sekolah khususnya pembelajaran sains telah diterapkan sejak beberapa tahun yang lalu. Selain untuk tujuan pembelajaran, penerapan e-learning juga sebagai sarana untuk mengenalkan teknologi informasi kepada peserta didik. Namun sampai sekarang pemanfaatannya masih kurang optimal. Bahkan sebagian orang beranggapan bahwa penerapan e-learning hanya sekedar mengikuti trend saja tanpa menghiraukan apakah tujuan pembelajaran dapat tercapai atau tidak. Oleh karena itu, penelitian atau kajian pustaka tentang implementasi e-learning khususnya pada pembelajaran sains perlu terus dilakukan.
Terimakasih atas wawasan informasinya Mia:)
Hapus